KOTA KUFAH terang oleh
sinar purnama. Semilir angin yang bertiup dari utara membawa hawa sejuk.
Sebagian rumah telah menutup pintu dan jendelanya. Namun geliat hidup kota
Kufah masih terasa.
Di serambi masjid Kufah,
seorang pemuda berdiri tegap menghadap kiblat. Kedua matanya memandang teguh ke
tempat sujud. Bibirnya bergetar melantunkan ayat-ayat suci Al-Quran. Hati dan
seluruh gelegak jiwanya menyatu dengan Tuhan, Pencipta alam semesta.
Orang-orang memanggilnya “Zahid” atau “Si Ahli Zuhud”, karena kezuhudannya
meskipun ia masih muda. Dia dikenal masyarakat sebagai pemuda yang paling
tampan dan paling mencintai masjid di kota Kufah pada masanya. Sebagian besar
waktunya ia habiskan di dalam masjid, untuk ibadah dan menuntut ilmu pada ulama
terkemuka kota Kufah. Saat itu masjid adalah pusat peradaban, pusat pendidikan,
pusat informasi dan pusat perhatian.
Pemuda itu terus larut
dalam samudera ayat Ilahi. Setiap kali sampai pada ayat-ayat azab, tubuh pemuda
itu bergetar hebat. Air matanya mengalir deras. Neraka bagaikan menyala-nyala
dihadapannya. Namun jika ia sampai pada ayat-ayat nikmat dan surga, embun sejuk
dari langit terasa bagai mengguyur sekujur tubuhnya. Ia merasakan kesejukan dan
kebahagiaan. Ia bagai mencium aroma wangi para bidadari yang suci.
Tatkala sampai pada surat
Asy Syams, ia menangis,
“fa alhamaha fujuuraha wa taqwaaha. qad aflaha man zakkaaha. wa qad khaaba man dassaaha…”
“fa alhamaha fujuuraha wa taqwaaha. qad aflaha man zakkaaha. wa qad khaaba man dassaaha…”
(maka Allah mengilhamkan
kepada jiwa itu jalan kefasikan dan ketaqwaan, sesungguhnya, beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan sungguh merugilah orang yang mengotorinya…)
Hatinya bertanya-tanya.
Apakah dia termasuk golongan yang mensucikan jiwanya. Ataukah golongan yang
mengotori jiwanya? Dia termasuk golongan yang beruntung, ataukah yang merugi?
Ayat itu ia ulang berkali-kali. Hatinya bergetar hebat. Tubuhnya berguncang. Akhirnya ia pingsan.
Ayat itu ia ulang berkali-kali. Hatinya bergetar hebat. Tubuhnya berguncang. Akhirnya ia pingsan.
***
Sementara itu, di pinggir
kota tampak sebuah rumah mewah bagai istana. Lampu-lampu yang menyala dari
kejauhan tampak berkerlap-kerlip bagai bintang gemintang. Rumah itu milik
seorang saudagar kaya yang memiliki kebun kurma yang luas dan hewan ternak yang
tak terhitung jumlahnya.
Dalam salah satu
kamarnya, tampak seorang gadis jelita sedang menari-nari riang gembira.
Wajahnya yang putih susu tampak kemerahan terkena sinar yang terpancar bagai
tiga lentera yang menerangi ruangan itu. Kecantikannya sungguh memesona. Gadis
itu terus menari sambil mendendangkan syair-syair cinta,
“in kuntu ‘asyiqatul lail fa ka’si musyriqun bi dhau’ wal hubb al wariq…”
(jika aku pencinta malam maka gelasku memancarkan cahaya dan cinta yang mekar )
“in kuntu ‘asyiqatul lail fa ka’si musyriqun bi dhau’ wal hubb al wariq…”
(jika aku pencinta malam maka gelasku memancarkan cahaya dan cinta yang mekar )
***
Gadis itu terus
menari-nari dengan riangnya. Hatinya berbunga-bunga. Di ruangan tengah, kedua
orangtuanya menyungging senyum mendengar syair yang didendangkan putrinya.
Sang ibu berkata, “Abu
Afirah, putri kita sudah menginjak dewasa. Kau dengarkanlah baik-baik
syair-syair yang ia dendangkan.”
“Ya, itu syair-syair
cinta. Memang sudah saatnya dia menikah. Kebetulan tadi siang di pasar aku
berjumpa dengan Abu Yasir. Dia melamar Afirah untuk putranya, Yasir.”
“Bagaimana, kau terima
atau…?”
“Ya jelas langsung aku
terima. Dia ‘kan masih kerabat sendiri dan kita banyak berhutang budi padanya.
Dialah yang dulu menolong kita waktu kesusahan. Di samping itu Yasir itu gagah
dan tampan.”
“Tapi bukankah lebih baik
kalau minta pendapat Afirah dulu?”
“Tak perlu! Kita tidak
ada pilihan kecuali menerima pinangan ayah Yasir. Pemuda yang paling cocok
untuk Afirah adalah Yasir.”
“Tapi, engkau tentu tahu
bahwa Yasir itu pemuda yang tidak baik.”
“Ah, itu gampang. Nanti
jika sudah beristri Afirah, dia pasti juga akan tobat! Yang penting dia kaya
raya.”
***
Pada saat yang sama, di
sebuah tenda mewah, tak jauh dari pasar Kufah. Seorang pemuda tampan
dikelilingi oleh teman-temannya. Tak jauh darinya seorang penari melenggak
lenggokan tubuhnya diiringi suara gendang dan seruling.
“Ayo bangun, Yasir. Penari itu mengerlingkan matanya padamu!” bisik temannya.
“Ayo bangun, Yasir. Penari itu mengerlingkan matanya padamu!” bisik temannya.
“Be…benarkah?”
“Benar. Ayo cepatlah. Dia
penari tercantik kota ini. Jangan kau sia-siakan kesempatan ini, Yasir!”
“Baiklah.
Bersenang-senang dengannya memang impianku.”
Yasir lalu bangkit dari
duduknya dan beranjak menghampiri sang penari. Sang penari mengulurkan tangan
kanannya dan Yasir menyambutnya. Keduanya lalu menari-nari diiringi irama
seruling dan gendang. Keduanya benar-benar hanyut dalam kelenaan. Dengan
gerakan mesra penari itu membisikkan sesuatu ketelinga Yasir,
“Apakah Anda punya waktu
malam ini bersamaku?”
Yasir tersenyum dan menganggukan kepalanya. Keduanya terus menari dan menari. Suara gendang memecah hati. Irama seruling melengking-lengking. Aroma arak menyengat nurani. Hati dan pikiran jadi mati.
Yasir tersenyum dan menganggukan kepalanya. Keduanya terus menari dan menari. Suara gendang memecah hati. Irama seruling melengking-lengking. Aroma arak menyengat nurani. Hati dan pikiran jadi mati.
***
Keesokan harinya.
Usai shalat dhuha, Zahid meninggalkan masjid menuju ke pinggir kota. Ia hendak menjenguk saudaranya yang sakit. Ia berjalan dengan hati terus berzikir membaca ayat-ayat suci Al-Quran. Ia sempatkan ke pasar sebentar untuk membeli anggur dan apel buat saudaranya yang sakit.
Usai shalat dhuha, Zahid meninggalkan masjid menuju ke pinggir kota. Ia hendak menjenguk saudaranya yang sakit. Ia berjalan dengan hati terus berzikir membaca ayat-ayat suci Al-Quran. Ia sempatkan ke pasar sebentar untuk membeli anggur dan apel buat saudaranya yang sakit.
Zahid berjalan melewati
kebun kurma yang luas. Saudaranya pernah bercerita bahwa kebun itu milik saudagar
kaya, Abu Afirah. Ia terus melangkah menapaki jalan yang membelah kebun kurma
itu. Tiba-tiba dari kejauhan ia melihat titik hitam. Ia terus berjalan dan
titik hitam itu semakin membesar dan mendekat. Matanya lalu menangkap di
kejauhan sana perlahan bayangan itu menjadi seorang sedang menunggang kuda.
Lalu sayup-sayup telinganya menangkap suara,
“Toloong! Toloong!!”
Suara itu datang dari
arah penunggang kuda yang ada jauh di depannya. Ia menghentikan langkahnya.
Penunggang kuda itu semakin jelas.
“Toloong! Toloong!!”
Suara itu semakin jelas terdengar. Suara seorang perempuan. Dan matanya dengan jelas bisa menangkap penunggang kuda itu adalah seorang perempuan. Kuda itu berlari kencang.
Suara itu semakin jelas terdengar. Suara seorang perempuan. Dan matanya dengan jelas bisa menangkap penunggang kuda itu adalah seorang perempuan. Kuda itu berlari kencang.
“Toloong! Toloong
hentikan kudaku ini! Ia tidak bisa dikendalikan!”
Mendengar itu Zahid
tegang. Apa yang harus ia perbuat. Sementara kuda itu semakin dekat dan tinggal
beberapa belas meter di depannya. Cepat-cepat ia menenangkan diri dan membaca
shalawat. Ia berdiri tegap di tengah jalan. Tatkala kuda itu sudah sangat dekat
ia mengangkat tangan kanannya dan berkata keras,
“Hai kuda makhluk Allah, berhentilah dengan izin Allah!”
Bagai pasukan mendengar perintah panglimanya, kuda itu meringkik dan berhenti seketika. Perempuan yang ada dipunggungnya terpelanting jatuh. Perempuan itu mengaduh.
“Hai kuda makhluk Allah, berhentilah dengan izin Allah!”
Bagai pasukan mendengar perintah panglimanya, kuda itu meringkik dan berhenti seketika. Perempuan yang ada dipunggungnya terpelanting jatuh. Perempuan itu mengaduh.
Zahid mendekati perempuan
itu dan menyapanya,
“Assalamu’alaiki. Kau tidak apa-apa?”
“Assalamu’alaiki. Kau tidak apa-apa?”
Perempuan itu mengaduh. Mukanya tertutup cadar hitam. Dua matanya yang bening
menatap Zahid.
Dengan sedikit merintih ia menjawab pelan,
“Alhamdulillah, tidak
apa-apa. Hanya saja tangan kananku sakit sekali. Mungkin terkilir saat jatuh.”
“Syukurlah kalau begitu.”
Dua mata bening di balik cadar itu terus memandangi wajah tampan Zahid.
Menyadari hal itu Zahid menundukkan pandangannya ke tanah. Perempuan itu
perlahan bangkit. Tanpa sepengetahuan Zahid, ia membuka cadarnya. Dan tampaklah
wajah cantik nan memesona,
“Tuan, saya ucapkan
terima kasih. Kalau boleh tahu siapa nama Tuan, dari mana dan mau ke mana
Tuan?”
Zahid mengangkat mukanya.
Tak ayal matanya menatap wajah putih bersih memesona. Hatinya bergetar hebat.
Syaraf dan ototnya terasa dingin semua. Inilah untuk pertama kalinya ia menatap
wajah gadis jelita dari jarak yang sangat dekat. Sesaat lamanya keduanya beradu
pandang. Sang gadis terpesona oleh ketampanan Zahid, sementara gemuruh hati
Zahid tak kalah hebatnya.
Gadis itu tersenyum
dengan pipi merah merona, Zahid tersadar, ia cepat-cepat menundukkan kepalanya.
“Innalillah. Astagfirullah,” gemuruh hatinya.
“Namaku Zahid, aku dari
masjid mau mengunjungi saudaraku yang sakit.”
“Jadi, kaukah Zahid yang
sering dibicarakan orang itu? Yang hidupnya cuma di dalam masjid?”
“Tak tahulah. Itu mungkin
Zahid yang lain.” kata Zahid sambil membalikkan badan. Ia lalu melangkah.
“Tunggu dulu Tuan Zahid!
Kenapa tergesa-gesa? Kau mau kemana? Perbincangan kita belum selesai!”
“Aku mau melanjutkan
perjalananku!”
Tiba-tiba gadis itu berlari dan berdiri di hadapan Zahid. Terang saja Zahid
gelagapan. Hatinya bergetar hebat menatap aura kecantikan gadis yang ada di
depannya. Seumur hidup ia belum pernah menghadapi situasi seperti ini.
“Tuan aku hanya mau bilang, namaku Afirah. Kebun ini milik ayahku. Dan rumahku
ada di sebelah selatan kebun ini. Jika kau mau silakan datang ke rumahku. Ayah
pasti akan senang dengan kehadiranmu. Dan sebagai ucapan terima kasih aku mau
menghadiahkan ini.” Gadis itu lalu mengulurkan tangannya memberi sapu tangan
hijau muda.
“Tidak usah.”
“Terimalah, tidak
apa-apa! Kalau tidak Tuan terima, aku tidak akan memberi jalan!”
Terpaksa Zahid menerima sapu tangan itu. Gadis itu lalu minggir sambil menutup kembali mukanya dengan cadar. Zahid melangkahkan kedua kakinya melanjutkan perjalanan.
Terpaksa Zahid menerima sapu tangan itu. Gadis itu lalu minggir sambil menutup kembali mukanya dengan cadar. Zahid melangkahkan kedua kakinya melanjutkan perjalanan.
***
Saat malam datang
membentangkan jubah hitamnya, kota Kufah kembali diterangi sinar rembulan.
Angin sejuk dari utara semilir mengalir.
Afirah terpekur di
kamarnya. Matanya berkaca-kaca. Hatinya basah. Pikirannya bingung. Apa yang
menimpa dirinya. Sejak kejadian tadi pagi di kebun kurma hatinya terasa gundah.
Wajah bersih Zahid bagai tak hilang dari pelupuk matanya. Pandangan matanya
yang teduh menunduk membuat hatinya sedemikian terpikat. Pembicaraan
orang-orang tentang kesalehan seorang pemuda di tengah kota bernama Zahid
semakin membuat hatinya tertawan. Tadi pagi ia menatap wajahnya dan
mendengarkan tutur suaranya. Ia juga menyaksikan wibawanya. Tiba-tiba air
matanya mengalir deras. Hatinya merasakan aliran kesejukan dan kegembiraan yang
belum pernah ia rasakan sebelumnya. Dalam hati ia berkata, “Inikah cinta?
Beginikah rasanya? Terasa hangat mengaliri syaraf. Juga terasa sejuk di dalam
hati.
Ya Rabbi, tak aku
pungkiri aku jatuh hati pada hamba-Mu yang bernama Zahid. Dan inilah untuk
pertama kalinya aku terpesona pada seorang pemuda. Untuk pertama kalinya aku
jatuh cinta. Ya Rabbi, izinkanlah aku mencintainya.”
Air matanya terus
mengalir membasahi pipinya. Ia teringat sapu tangan yang ia berikan pada Zahid.
Tiba-tiba ia tersenyum, “Ah sapu tanganku ada padanya. Ia pasti juga mencintaiku. Suatu hari ia akan
datang kemari.”
Hatinya berbunga-bunga.
Wajah yang tampan bercahaya dan bermata teduh itu hadir di pelupuk matanya.
***
Sementara itu di dalam
masjid Kufah tampak Zahid yang sedang menangis di sebelah kanan mimbar. Ia
menangisi hilangnya kekhusyukan hatinya dalam shalat. Ia tidak tahu harus
berbuat apa. Sejak ia bertemu dengan Afirah di kebun kurma tadi pagi ia tidak
bisa mengendalikan gelora hatinya. Aura kecantikan Afirah bercokol dan mengakar
sedemikian kuat dalam relung-relung hatinya. Aura itu selalu melintas dalam
shalat, baca Al-Quran dan dalam apa saja yang ia kerjakan. Ia telah mencoba
berulang kali menepis jauh-jauh aura pesona Afirah dengan melakukan shalat
sekhusyu’-khusyu’-nya namun usaha itu sia-sia.
“Ilahi, kasihanilah
hamba-Mu yang lemah ini.
Engkau Maha tahu atas
apa yang menimpa diriku.
Aku tak ingin
kehilangan cinta-Mu. Namun Engkau juga tahu,
hatiku ini tak mampu
mengusir pesona kecantikan seorang makhluk yang Engkau ciptakan.
Saat ini hamba sangat
lemah berhadapan dengan daya tarik wajah dan suaranya Ilahi, berilah padaku
cawan kesejukan untuk meletakkan embun-embun cinta yang menetes-netes dalam
dinding hatiku ini. Ilahi, tuntunlah langkahku pada garis takdir yang paling
Engkau ridhai. Aku serahkan hidup matiku untuk-Mu.”
Isak Zahid mengharu biru pada Tuhan Sang Pencipta
hati, cinta, dan segala keindahan semesta.
Zahid terus meratap dan
mengiba. Hatinya yang dipenuhi gelora cinta terus ia paksa untuk menepis
noda-noda nafsu. Anehnya, semakin ia meratap embun-embun cinta itu semakin
deras mengalir. Rasa cintanya pada Tuhan. Rasa takut akan azab-Nya. Rasa cinta
dan rindu-Nya pada Afirah. Dan rasa tidak ingin kehilangannya. Semua bercampur
dan mengalir sedemikian hebat dalam relung hatinya. Dalam puncak munajatnya ia
pingsan.
Menjelang subuh, ia
terbangun. Ia tersentak kaget. Ia belom shalat tahajjud. Beberapa orang tampak
tengah asyik beribadah bercengkerama dengan Tuhannya. Ia menangis, ia menyesal.
Biasanya ia sudah membaca dua juz dalam shalatnya.
“Ilahi, jangan kau
gantikan bidadariku di surga dengan bidadari dunia. Ilahi, hamba lemah maka
berilah kekuatan!”
Ia lalu bangkit, wudhu,
dan shalat tahajjud. Di dalam sujudnya ia berdoa,
“Ilahi, hamba mohon
ridha-Mu dan surga. Amin.
Ilahi lindungi hamba
dari murkamu dan neraka. Amin.
Ilahi.. jika boleh,
hamba titipkan rasa cinta hamba pada Afirah kepada-Mu, hamba terlalu lemah
untuk menanggung-Nya. Amin.
Ilahi, hamba memohon
ampunan-Mu, rahmat-Mu, cinta-Mu, dan ridha-Mu. Amin.”
***
Pagi hari, usai shalat
dhuha Zahid berjalan ke arah pinggir kota. Tujuannya jelas yaitu melamar
Afirah. Hatinya mantap untuk melamarnya. Di sana ia disambut dengan baik oleh
kedua orangtua Afirah. Mereka sangat senang dengan kunjungan Zahid yang sudah
terkenal ketakwaannya di seantero penjuru kota. Afiah keluar sekejab untuk
membawa minuman lalu kembali ke dalam. Dari balik tirai ia mendengarkan dengan
seksama pembicaraan Zahid dengan ayahnya. Zahid mengutarakan maksud
kedatangannya, yaitu melamar Afirah.
Sang ayah diam sesaat. Ia
mengambil nafas panjang. Sementara Afirah menanti dengan seksama jawaban
ayahnya. Keheningan mencekam sesaat lamanya. Zahid menundukkan kepala ia pasrah
dengan jawaban yang akan diterimanya. Lalu terdengarlah jawaban ayah Afirah,
“Anakku Zahid, kau datang terlambat. Maafkan aku, Afirah sudah dilamar Abu Yasir untuk putranya Yasir beberapa hari yang lalu, dan aku telah menerimanya.”
“Anakku Zahid, kau datang terlambat. Maafkan aku, Afirah sudah dilamar Abu Yasir untuk putranya Yasir beberapa hari yang lalu, dan aku telah menerimanya.”
Zahid hanya mampu
menganggukan kepala. Ia sudah mengerti dengan baik apa yang didengarnya. Ia
tidak bisa menyembunyikan irisan kepedihan hatinya. Ia mohon diri dengan mata
berkaca-kaca. Sementara Afirah, lebih tragis keadaannya. Jantungnya nyaris
pecah mendengarnya. Kedua kakinya seperti lumpuh seketika. Ia pun pingsan saat
itu juga.
***
Zahid kembali ke masjid
dengan kesedihan tak terkira. Keimanan dan ketakwaan Zahid ternyata tidak mampu
mengusir rasa cintanya pada Afirah. Apa yang ia dengar dari ayah Afirah membuat
nestapa jiwanya. Ia pun jatuh sakit. Suhu badannya sangat panas. Berkali-kali
ia pingsan. Ketika keadaannya kritis seorang jamaah membawa dan merawatnya di
rumahnya. Ia sering mengigau. Dari bibirnya terucap kalimat tasbih, tahlil,
istigfhar dan … Afirah.
Kabar tentang derita yang
dialami Zahid ini tersebar ke seantero kota Kufah. Angin pun meniupkan kabar
ini ke telinga Afirah. Rasa cinta Afirah yang tak kalah besarnya membuatnya menulis
sebuah surat pendek,
Kepada Zahid,
Assalamu’alaikum
Aku telah mendengar
betapa dalam rasa cintamu padaku. Rasa cinta itulah yang membuatmu sakit dan
menderita saat ini. Aku tahu kau selalu menyebut diriku dalam mimpi dan
sadarmu. Tak bisa kuingkari, aku pun mengalami hal yang sama. Kaulah cintaku
yang pertama. Dan kuingin kaulah pendamping hidupku selama-lamanya.
Zahid,
Kalau kau mau. Aku tawarkan dua hal padamu untuk mengobati rasa haus kita berdua. Pertama, aku akan datang ke tempatmu dan kita bisa memadu cinta. Atau kau datanglah ke kamarku, akan aku tunjukkan jalan dan waktunya.
Kalau kau mau. Aku tawarkan dua hal padamu untuk mengobati rasa haus kita berdua. Pertama, aku akan datang ke tempatmu dan kita bisa memadu cinta. Atau kau datanglah ke kamarku, akan aku tunjukkan jalan dan waktunya.
Wassalam
Afirah
Afirah
===============================================================
Surat itu ia titipkan
pada seorang pembantu setianya yang bisa dipercaya. Ia berpesan agar surat itu
langsung sampai ke tangan Zahid. Tidak boleh ada orang ketiga yang membacanya.
Dan meminta jawaban Zahid saat itu juga.
Hari itu juga surat
Afirah sampai ke tangan Zahid. Dengan hati berbunga-bunga Zahid menerima surat
itu dan membacanya. Setelah tahu isinya seluruh tubuhnya bergetar hebat. Ia
menarik nafas panjang dan beristighfar sebanyak-banyaknya. Dengan berlinang air
mata ia menulis untuk Afirah :
Kepada Afirah,
Salamullahi’alaiki,
Benar aku sangat
mencintaimu. Namun sakit dan deritaku ini tidaklah semata-mata karena rasa
cintaku padamu. Sakitku ini karena aku menginginkan sebuah cinta suci yang
mendatangkan pahala dan diridhai Allah ‘Azza Wa Jalla’. Inilah yang kudamba.
Dan aku ingin mendamba yang sama. Bukan sebuah cinta yang menyeret kepada
kenistaan dosa dan murka-Nya.
Afirah,
Kedua tawaranmu itu tak ada yang kuterima. Aku ingin mengobati kehausan jiwa ini dengan secangkir air cinta dari surga. Bukan air timah dari neraka. Afirah, “Inni akhaafu in ‘ashaitu Rabbi adzaaba yaumin ‘adhim!” ( Sesungguhnya aku takut akan siksa hari yang besar jika aku durhaka pada Rabb-ku. Az Zumar : 13 )
Kedua tawaranmu itu tak ada yang kuterima. Aku ingin mengobati kehausan jiwa ini dengan secangkir air cinta dari surga. Bukan air timah dari neraka. Afirah, “Inni akhaafu in ‘ashaitu Rabbi adzaaba yaumin ‘adhim!” ( Sesungguhnya aku takut akan siksa hari yang besar jika aku durhaka pada Rabb-ku. Az Zumar : 13 )
Afirah,
Jika kita terus bertakwa. Allah akan memberikan jalan keluar. Tak ada yang bisa aku lakukan saat ini kecuali menangis pada-Nya. Tidak mudah meraih cinta berbuah pahala. Namun aku sangat yakin dengan firmannya :
“Wanita-wanita yang tidak baik adalah untuk laki-laki yang tidak baik, dan laki-laki yang tidak baik adalah buat wanita-wanita yang tidak baik (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka. Bagi mereka ampunan dan rizki yang mulia (yaitu surga).”
Karena aku ingin mendapatkan seorang bidadari yang suci dan baik maka aku akan berusaha kesucian dan kebaikan. Selanjutnya Allahlah yang menentukan.
Jika kita terus bertakwa. Allah akan memberikan jalan keluar. Tak ada yang bisa aku lakukan saat ini kecuali menangis pada-Nya. Tidak mudah meraih cinta berbuah pahala. Namun aku sangat yakin dengan firmannya :
“Wanita-wanita yang tidak baik adalah untuk laki-laki yang tidak baik, dan laki-laki yang tidak baik adalah buat wanita-wanita yang tidak baik (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka. Bagi mereka ampunan dan rizki yang mulia (yaitu surga).”
Karena aku ingin mendapatkan seorang bidadari yang suci dan baik maka aku akan berusaha kesucian dan kebaikan. Selanjutnya Allahlah yang menentukan.
Afirah,
Bersama surat ini aku sertakan sorbanku, semoga bisa jadi pelipur lara dan rindumu. Hanya kepada Allah kita serahkan hidup dan mati kita.
Bersama surat ini aku sertakan sorbanku, semoga bisa jadi pelipur lara dan rindumu. Hanya kepada Allah kita serahkan hidup dan mati kita.
Wassalam,
Zahid
Zahid
===============================================================
Begitu membaca jawaban
Zahid itu Afirah menangis. Ia menangis bukan karena kecewa tapi menangis karena
menemukan sesuatu yang sangat berharga, yaitu hidayah. Pertemuan dan percintaannya
dengan seorang pemuda saleh bernama Zahid itu telah mengubah jalan hidupnya.
Sejak itu ia menanggalkan
semua gaya hidupnya yang glamor. Ia berpaling dari dunia dan menghadapkan
wajahnya sepenuhnya untuk akhirat. Sorban putih pemberian Zahid ia jadikan
sajadah, tempat dimana ia bersujud, dan menangis di tengah malam memohon
ampunan dan rahmat Allah SWT. Siang ia puasa malam ia habiskan dengan
bermunajat pada Tuhannya. Di atas sajadah putih ia menemukan cinta yang lebih
agung dan lebih indah, yaitu cinta kepada Allah SWT. Hal yang sama juga
dilakukan Zahid di masjid Kufah. Keduanya benar-benar larut dalam samudera
cinta kepada Allah SWT.
Allah Maha Rahman dan Rahim.
Allah Maha Rahman dan Rahim.
Beberapa bulan kemudian
Zahid menerima sepucuk surat dari Afirah :
Kepada Zahid,
Assalamu’alaikum,
Segala puji bagi Allah,
Dialah Tuhan yang memberi jalan keluar hamba-Nya yang bertakwa. Hari ini ayahku
memutuskan tali pertunanganku dengan Yasir. Beliau telah terbuka hatinya.
Cepatlah kau datang melamarku. Dan kita laksanakan pernikahan mengikuti sunnah
Rasululullah SAW. Secepatnya.
Wassalam,
Afirah
==============================================================
Seketika itu Zahid sujud syukur di mihrab masjid Kufah. Bunga-bunga cinta bermekaran dalam hatinya. Tiada henti bibirnya mengucapkan hamdalah.
Afirah
==============================================================
Seketika itu Zahid sujud syukur di mihrab masjid Kufah. Bunga-bunga cinta bermekaran dalam hatinya. Tiada henti bibirnya mengucapkan hamdalah.
Diambil dari buku dengan
judul yang sama karya Habiburrahman El Shirazy.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar